Menelusuri Sejarah Surabaya Bersama Padmatour Organizer & Jamu Iboe

Surabaya, 29 Juni 2025 — Surabaya Heritage Tour kembali digelar, kali ini dengan subtema yang menarik perhatian: Pecinan Surabaya. Diselenggarakan oleh Padmatour Organizer x Jamu Iboe, menggunakan SSCT (Surabaya Sightseeing City Tour) Bus, acara ini sukses mengajak para peserta menjelajahi sisi kota yang penuh sejarah dan pesona budaya Tionghoa.

Dengan dipandu langsung oleh pakar heritage Surabaya, Freddy H. Istanto, tur ini membawa 20 peserta umum menyusuri jejak masa lalu yang tersembunyi di balik hiruk pikuk kota modern. Destinasi pertama adalah Museum Bank Indonesia, dulunya dikenal sebagai De Javasche Bank—saksi bisu aktivitas ekonomi kolonial yang kini telah menjadi pusat edukasi sejarah perbankan.

Freddy tidak saja menceritakan sejarah kota secara historis, melainkan juga bangunan, peruntukan dan bahkan kebijakan-kebijakan pemerintah kota yang mempengaruhi tata kota. Bahkan mengapa Jalan Mayjen Sungkono begitu lama dibangun, ternyata peserta tour baru tahu bahwa itu disebabkan konstruksi tanahnya yang labil menyebabkan  berbagai teknologi gagal diterapkan.

Tur berlanjut ke Rumah Abu Han, rumah leluhur yang kaya nilai arsitektur dan cerita diaspora Tionghoa Surabaya. Di titik ini, peserta dibuat terpana oleh detail-detail bangunan yang masih lestari dan kisah-kisah keluarga yang mengakar dalam sejarah kota. Bukan saja bentuk bangunan secara fisik yang menjadi bahan informasi, melainkan filsafat dan manfaat konstruksi, juga secara budaya bangunan ini memiliki kisah dan struktur keluarga Tionghoa yang tetap dipelihara meskipun sekarang tak lagi digunakan sebagai ritual keluarga.

Puncak perjalanan berada di Klenteng di Jalan Dukuh, di mana para peserta disuguhi penampilan seni Wayang Potehi—salah satu bentuk kesenian khas Tionghoa yang mulai langka. Penonton tampak terhanyut dalam pertunjukan yang membawa mereka ke dalam narasi klasik penuh filosofi.

“Baru kali ini saya sadar sejarah Surabaya sebegitu kompleksnya,” ungkap salah satu peserta. Ungkapan ini mencerminkan respons umum peserta yang mengaku belum banyak tahu tentang sisi lain kota Pahlawan.

Yang menarik, pada sesi terakhir menjelang berakhirnya perjalanan, seluruh peserta berpartisipasi bermain teka teki tentang sejarah bangunan di Surabaya era 80-an. Suasana pun menjadi riuh, karena rata-rata peserta berusia 40 ke atas.

Acara ini merupakan pelaksanaan keempat dari Open Trip Surabaya Heritage Tour oleh Padmatour Organizer—dua kali dalam bentuk walking tour, dan dua kali menggunakan bus khusus. Konsistensi penyelenggaraan ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam mengenal lebih dekat warisan budaya kota mereka. (WB)

You may also like...